Jember.... I am comiing....!!!

Assalamualaikum. Mbak ini aku kirim ceritaku waktu ke jember. Mhn maaf bila ada kata2 yg tdk berkenan, atau ceritanya tdk seperti yg dibayangkan. Mhn maaf bila terlalu terus terang, atau terlalu jelek, atau terlalu membosankan. Bisanya hanya seperti itu.... ---------------------- Jember.... I am comiing....!!! Alhamdulillah... tiket sdh di tangan, packing sdh hampir kelar. Lalala... senangnya hatiku mau bertemu dn berkumpul dg KBH lagi! Kebersamaan dengan KBH adalah sesuatu yg menyenangkan dan takkan terlupakan. Sesuatu yg ditunggu2 dan diharapkan. KBH adalah Keluarga Bani Hoedan, keluargaku. Ada ibu dn kakak2ku. Ada keponakan2 dn cucu2. Mereka semua lucu2... :D Terbayang olehku seandainya bapak Hoedan Pradjasubrata masih ada, insyaAllah akan senang sekali berada di tengah2 kami. Melihat kerukunan dan kekompakan kami dan kesuksesan kami masing2. Ada yang sukses berkarier, ada yang sukses bakulan, ada yang sukses beranak...hihi... piiiss ah, jangan terlalu serius... kita semua punya anak kan? Alhamdulillah berarti sukses punya anak. Kembali ke acara kumpul2. Biasanya kami kumpul kalau lebaran. Itu juga susah ngumpulnya. Ada aja yg membuat g bs kumpul semua. Ada yg ke rumah mertua, ada yg punya acara, ada juga yg berhalangan. Kalau bukan begitu, pas acara nikahan. Yang paling seru dan rame waktu menghadiri pernikahan Afiena, keponakanku dr kakak kedua. Soalnya KBH bisa ngumpul di wisma citra, dlm suasana gembira penuh tawa. Di luar kebiasaan kali ini KBH yg dipelopori kakak tertua mau bersama2 tour ke jember! Jarang2 nih kami ke arah timur apalagi bareng2 begini. Sekalinya ke timur pas mantenan salah 1 keponakan. Ichsan, putra bungsu kakak ke 4ku yg mempersunting gadis ponorogo. Rame, seru dn menyenangkan karena bareng2 naik bis ke sana. Macet krn ada kirab aparat daerah ga mengurangi kegembiraan kami. Allah yg Maha Baik menempatkan bis yg kami tumpangi berada paling depan. Sehingga bisa menikmati pemandangan arak2 kereta kuda dll. Hei...hei...ceritanya kok jadi ngalor ngidul. Kita mau ngomongin Jember nih... Ohya perkenalkan dulu ya, tokoh utama dari kisah ini. Tokoh utamanya tentu saja aku, ningrum, putri ke 10 dari ibunda Srijati Hoedan, sesepuh KBH. Lalu suamiku, Wijayanto, atau yg biasa kupanggil mas Wit. Kemudian Sekar, anak pertamaku. Yudha, anak kedua. Bagus Seno, anak ke 3, dan Alya, anak bungsuku. Nah, sekarang lanjut ya ceritanya.... Akhirnya hari yg dinanti pun tiba. Hari itu hari kamis tgl 5 juli 2012. Dari rumah, kami naik antonov (our special isuzu phanter), ke stasiun bekasi. Disambung KRL ke Gambir. Alhamdulillah semuanya lancar barokah. Walau kadang diselingi perdebatan kecil antara anak2. Sebenarnya kami berusaha seminimal mungkin membawa barang. Ternyata masih banyak juga. 1 kopor max cabin plus 3 ransel...eh masih ditambah lagi bantal dn boneka kesayangan Alya. Jadilah kami rombongan kecil yg penuh bawaan... Di kereta Sembrani duduk kami terpisah. Aku dn sby (sekar bagus yudha) di seat nmr 2abcd. Mas Wit dn si bungsu Alya di seat 12 ab (kalau ga salah). Makanan dan minuman di kereta enak2 tp juga muahal2... yah... kpn lagi bisa jajan begini? Dinikmati sajalah sambil disyukuri, alhamdulillah Allah paring rezeki, bisa buat beli makanan di kereta.... Sampai di Surabaya matahari sdh terlihat. Cukup lama juga menanti kakakku nomor 9 yg tinggal di surabaya menjemput. Alhamdulillah ada kakak Yoga yg berbaik hati sampai dibela2in cuti biar bisa menjemput dn menemani kami selama di surabaya. Untuk daerah sini kami blank g ada bayangan kota ini spt apa. Karena baru bisa masuk hotel jam 14.00, stlah sarapan, kakak Yo mengajak kami berkeliling kota surabaya. Melihat2 jembatan merah (yg g sesuai dg bayanganku... oh.. ternyata begitu saja, g segagah yg dinyanyikan para biduan/nita). Melihat banyak gedung2 tua buatan belanda dan mengunjungi museum kapal selam. Melihat film ttg TNI AL yng diputar di teater museum membuatku mengantuk.. maaf bukan bermaksud g menghargai yg membelikan tiket, tapi duduk diam di tempat gelap sehabis perjalanan panjang adalah alasan yg bagus utk liyer2.. apalagi sambil diceritani. Setelah melihat film kami masuk ke dalam kapal selam pasopati 410. Takjub melihat ruang di kapal selam. Torpedonya yang segede gajah, peralatannya yang begitu banyak, ruang tidur dan tempat tidur yg sempit (sptnya msh bagusan tempat tidur di penjara-menurut film2). Kok bisa ya mereka para pejuang itu hidup di tempat seperti ini dan mengoperasikan begitu banyak instrumen dalam waktu yg demikian lama. Bgmn mereka makan, buang air dan mandi...? salut buat mereka. Kami mengintip periskop dn melihat mobil2 berlalu lalang melalui kacanya yang kotor. Kami melihat ruang kapten yg kecil mungil cm cukup utk 1 tmpat tidur seukuran sofa, 1 meja tulis kecil dn sebuah lemari kecil yg diletakkan berdesakan. Melihat ruang mesin dan lain2. Setelah melihat kapal selam (-dan bernarsis ria di dalamnya- tentu saja), kami ke hotel Singgasana. Hotel yg megah dn mewah yg disediakan kakak Yo utk kami. Kamar kami terletak di bagian belakang -nyaris di pojokan. Kakak Yo yang baik hati mengantarkan makan malam sesuai pesanan. Nasi goreng dan sate ayam. Nyam..nyam.. Esok paginya kembali kakak Yoga mengantarkan sarapan bubur ayam. Karena jatah sarapan dr hotel cuma utk 2 orang. Kalau tambah orang bayar lagi. Habis sarapan alya berenang. Yg lain nonton tv dan tidur... Ohya malam harinya ada kabar bhwa bis rombongan dari jogja tdk siap besok paginya spt yg direncanakan. Bisnya kena macet. Diperkirakan baru bisa berangkat jam 4 sore... Sedianya kami akan nyegat bis di pinggir surabaya. Tp krn perubahan jadwal ini, diputuskn bahwa rombongan tambun dan sby berangkat duluan ke jember dengan vios pd Yo. Wuih mantap deh.. sedan diisi 7 orang... sayangnya Fahrizal putra pakde Yo tdk bisa ikut krn baru saja disunat. Lukanya blm sembuh betul.. Berangkat ke jember habis dhuhur, mampir ke daerah yg terendam lumpur lapindo... subhanallah... luas sekali area yg tertutup lumpur. Luas dan tinggi, tanggul yg menahan lumpurnya. Berapa banyak lumpur yg keluar dari dalam bumi? Berapa luas ruang yg ditinggalkannya? Akankah ruang lowong tersebut terisi sesuatu? Atau akan ambles pd suatu saat? Wallahu a'lam... sungguh kekuasaan Allah tdk tertandingi.... Naik ojek kami mendekati arah sumber keluarnya lumpur. Mas Wit dan Bagus bonceng ojek warga setempat yg rumahnya terendam lumpur dn belum mendapatkan ganti rugi. Sekar dan Yudha naik ojek satu lagi. Ojekku dn alya istimewa, karena yg jd sopir kakak Yo. Tukang ojeknya nunggu di pangkalan. Rasanya jauh sekali mencapai sumber letupan keluarnya lumpur. Akhirnya sampai juga ke satu titik polnya ojek. Utk mendekati sumber semburan, kami harus jalan kaki. Lumpurnya sudah mengeras. Pecah2 spt tanah kering gersang berwarna kelabu. Ada sebuah aliran lumpur membelah lumpur yg sdh kering. Itu lumpur dr sumber semburan (yg sdh tidak menyembur tp masih terus mengalir) yg dialirkan ke sungai porong. Ada pipa besar yng menggelontorkan air sungai agar lumpur bisa terus mengalir dan tidk mengeras. Konon kata warga yg mendampingi kami, lumpur tsb mengandung minyak. Air sungai sengaja diambil utk melancarkan aliran lumpur sampai di suatu pangkalan utk diolah, diambil minyaknya. Entah benar entah tidak.... Setelah melihat lumpur, kami melanjutkan perjalanan ke jember. Mampir makan malam di warung kencoer, warung menunya biasa tapi suasananya istimewa. Mejanya besar2 sptnya terbuat dari kayu pohon yg dibelah, mengikuti bentuk pohonnya. Kursinya juga besar2. Di halamannya suasana romantis. Karena berada di antara pohon2 dan lampu yang temaram... Sampai di jember, di rumah Basith, keponakanku dr kakak ke 4, hari sudah malam. Kak Basith ini adlh sinder di sebuah perusahaan gula. Rumahnya sangat besar. Jendelanya sebesar pintu. Pintunya? Lebih besar lagi! Kak Basith dan mbak Siti menyambut kami dg hangat. Sehangat minuman yg disuguhkan utk kami. Banyak kasur dihamparkan di hampir setiap ruangan. Nyenyak betul tidur kami malam itu. Selain capek, kenyang, juga tdk ada suara berisik dari lalu lalangnya kendaraan. Sunyi sepi dan damai. Pagi hari barulah kulihat kebesaran rumah kak Basith. Rumah kumpeni zaman doeloe... melihatnya jadi ingat film hitam putih dengan orang belanda tinggi besar berhidung mancung berpakaian serba putih dengan topi bundar dan menghisap cangklong.. Besar rumah besar pula halamannya. Halaman depan, halaman belakang. Luas sekali! Di bagian samping kiri rumah ada garasi. Di belakang garasi ada kamar2 dan dapur. Mungkin tadinya kamar2 pembantu. Hmm.. ada berapa ya pembantunya? Ada kamar yg katanya sejak ditempati kak Basith sampai sekarang tdk pernah dibuka2. Wah... ada apa ya di dalamnya...? Pagi itu mas Wit dan anak2 jalan2 di sekitar rumah kak basith. Di sana waktu serasa berhenti berputar. Jauh dari lalu lalang kendaraan dan keramaian. Banyak pohon2 besar dan udaranya bersih sejuk. Setelah mencuci pakaian dan menjemurnya, dan kejatuhan besi jemuran pas dikepala -oleh2 rasa sakitnya masih samar2 terasa sekarang- Aku ngobrol dengan Siti di teras depan. Melihat suasananya, aku kok jadi kangen alm bapak. Mungin wktu kecil dulu pernah diajak ke suatu tempat yg mirip dengan tempat ini. Kami sarapan soto. Lalu bermalas2an menunggu rombongan dari jogja datang. Kapan ya... kok nggak datang2. Habis berangkatnya juga telat sih... Akhirnya tengah hari bis rombongan dari jogja datang juga... Ada ibuku yg lbh sering dipanggil eyanguti, ada kakak2ku dn juga keponakan serta cucu2. Hampir lengkap semua KBH, seandainya saja kakak ke 2 ku dn keluarganya bisa hadir, juga kak Ihsan, adik kak Basith dan istrinya, dan mas Fauzi, suami kakak ke 4 ku karena sdg di makasar. Absen dulu ya! Eyanguti, pakde Win dan budhe Ninik (kakak tertuaku dan suaminya), dan putra mereka Imad, bersama istrinya Ita dan kedua putri mereka, Hani dan Aina. Mbak Warih, kakak ke 4 ku bersama putera dn mantunya, Adien dan Ayu dan puteri kecil mereka, Balqis. Mas Sapto, kakak ke 7 ku dan keluarganya, mbak Fat, Salma, Opang, Fikri dan Rara. Mas Hasto, kakak ke 8 ku dan keluarganya, mbak Tri, Faisal dan Chera. Fyi kakak ke 3, 5 dan 6 ku sdh mendahului kami semua meninggalkan dunia ini. Jadi tak kurang dari 32 orang trmasuk kami dan kak Basith serta mbak Siti dan kedua putra/i mrk Nazwa dan Farzan, serta kakak Yo berkumpul. Wah heboh deh...! Suasana jadi riuh dan meriah. Anak2 cepat berbaur. Tubuh2 lelah segera bergelimpangan di kasur2 yg telah disediakan. Tas dan koper berserakan. Yang jadi favorit dan rela ngantri adlah... kamar mandi. Semua ingin menyegarkan diri dan sholat dhuhur. Setelah semua sholat, menjelang asar kami semua naik bis ke pantai papuma. Terbayang capeknya rombongan jogja karena baru saja sampai. Tapi sepertinya karena gembira rasa capek terlupakan, juga tentang terlambatnya bis yg merusak jadwal semula sepertinya bukan masalah lagi. Ohya, kakak Yo tidak ikut. Kakak Yo malah pulang ke surabaya karena mau menyiapkan bahan2 MOSnya Rizal. Jalan menuju pantai kecil, berliku dan naik turun.. wiih.. serem... ngeri bisnya ngguling. Tp alhamdulillah kami semua selamat sampai 7an. Pantai papuma sungguh indah. Bersih. Banyak kapal nelayan di sana. Di kejauhan ada batu2 berbentuk aneh yg besar2. Sayangnya udara sangat dingin. Membuat enggan turun ke air. Tapi anak2 sih tetep saja main pasir dan air. -sebagian. De Nazwa, menggigil kedinginan. De Balqis, memakai pakaian berlapis2, kaos kaki dn tudung kepala. Enak banget meluk de Balqis. Hangat... Kak Basith dn mbak Siti menyiapkan segala sesuatunya dg baik. Mereka sdh memesan tempat dan ikan bakar + minuman sebelumnya. Jadi kami tidak menunggu terlalu lama sampai waktu makan tiba. Nasi sudah bawa dari rumah. Alhamdulillah... rasanya nikmat sekali bisa makan bersama2 di pantai. Ibu juga terlihat senang melihat anak cucu bisa berkumpul spt ini. Ya walaupun tdk bisa semua. Ketika hari mulai gelap, entah dari mana datangnya tiba2 di atas pohon2 besar di sekeliling kami banyak monyet! Hanya terlihat sebagai siluet yg bergerak2. Untungnya mereka tetap di atas dan tidak turun. Usai acara makan2 dan minum air kelapa langsung dari buahnya, kami pulang. Naik bis lagi. Melalui jalan seram yg tadi lagi... Sampai rumah kak Basith langsung pada tidur -yg tidur. Kebanyakan malah sdh tidur duluan di bis. Jadi pindah tempat saja. Aku g bisa tidur. Soalnya jam 12 malam nanti mbak Warih akan pulang duluan ke bandng dg kereta, bersama mas Adin, mb Ayu dn de Balqis. Kalau aku tidur takut ga melihat mereka pergi. Melihat keluarga bani hoedan berkumpul dan tidur semua -mungkin lbh tepatnya mapan di kasur krn kulihat Ayu msh sms an, kecuali aku, Faisal dan Opang (mereka masih asik nonton tv), ada rasa haru di hati. Bersyukur krn diberikan keluarga yang baik, yang rukun dan bisa berkumpul bersama. Saudara2ku itu kufoto selagi mereka tidur. Sayang kamera dr hpku ga ada blitznya, jd gambarnya kebanyakan gelap. "Bulik iseng banget sih?" Tiba2 terdengar suara Ayu. Hehe.. ketahuan deh... "Tenang Yu, ini ga diupload kok..." Jadi... foto2 tidur msh aman kok... Pukul setengah sebelas mas Hasto terbangun dan kaget melihat jam dinding yg kecepetan hampir sejam menunjuk pukul 23.30. Langsung dibangunkannya mbak Warih. Cuma aku, mbak Nik, Siti dan Basith yg bangun. Eyanguti bangun sebentar tapi terus tidur lagi waktu melihat mbak warih msh berkemas. Rombongan mba Warih diantar kak Basith ke stasiun. Setelah mrk pergi mbak Nik tidur lagi. Aku berkemas, menyetrika pakaian yg msh anyep. Siti sibuk di dapur. Jam 01.30 aku pamit tidur. Siti masih sibuk di dapur. Entah sampai jam berapa. Kak Basith pulang jam berapa aku juga ga tau... Aku bangun jam 4. Langsung mandi mumpung belum antri. Lalu satu2 yg lain juga bangun dan bersiap utk pulang... Ah... rasanya cepat sekali sudah harus pulang lagi. Kami ikut rombongan bis sampai di surabaya. Nanti di surabaya dijemput lagi oleh kakak Yo. Malam harinya kami akan kembali ke jakarta dengan kereta argoanggrek dr st ps turi. Alhamdulillah... walau cuma sebentar, kami bisa bertemu dan berkumpul bersama. Masih kangen sih... masih blm sempat ngobrol dengan leluasa.. tapi harus disyukuri dan dinikmati.. Mudah2an suatu saat nanti bisa bertemu dan berkumpul lagi dalam suasana yg menyenangkan... Begitulah kisahku. Sudah macet nih ga bisa nulis lebih panjang lagi. Sudah kebayang pada menguap membaca ceritaku. Soalnya kepanjangan dan membosankan..... Terimakasih buat redaksi KBH, mhn maaf bila gaya tulisan dan gaya bahasa jauh dari harapan... Bekasi, 23 juli 2012 de Roem

Yang Pertama

       Kata orang “segala yang pertama itu, biasanya kan menjadi memory”. Kayaknya ada benarnya ya??? Coba aja piknik KBH yang pertama, kemarin sabtu, 7 Juli 2012. Insya Allah, kan menjadi beautiful memory. Khususnya bagi penulis, saat itu sungguh tak disangka, saat bus akan berangkat pakdhe Win yang berada di depan memanggil namaku, katanya ibu aku di minta untuk memimpin doa. Siap nggak siap, ya harus siap. Waduh….. nggak terbayang deh, andai nggak bisa gimana? Bisa nanggis deh he..he….Alhamdulillah hafal doa naik kendaraan (walau naik kendaraannya belum).e ngomong-ngomong ada nggak yang belum hafal? Mau hafal? Jadi guru TK aja! Asyik lho…bisa ngapalin bareng murid-murid. Jujur nih…,penulis hafal, karena belajar bareng murid-murid dan sering dibaca bareng berulang-ulang dengan murid-murid. Dulu ya nggak hafal, sekarang jadi hafal, seperti doa bercermin, ketika turun hujan, nenjenguk orang sakit,syukur nikmat, dll. Ayo…siapa yang mau jadi guru TK??? Jangan tanya gajinya lho..! jelaslah bagai langit dan bumi jika di banding Wiraswasta, Telkom, dan BRI he..he…Apalagi guru TK GBPNS (Guru Bukan Pegawai Negri Sipil) seperti penulis. Tapi, bener deh seneng buanget jadi guru TK. Oya berhubung yang baca doa penulis, penulis jadi merasa sangat bertanggung jawab atas keselamatan penumpang. Di dalam bus jadi lebih sering memanjatkan doa-doa. Apalagi ketika bus memasuki kawasan pantai. Wah…jaian yang terjal, berliku-liku, naik turun, dan dikelilingi hutan-hutan, penulis berdoaaaa terus, begitu juga pulangnya dari pantai. E…e…ketika mau pulang ke jogja, lagi-lagi penulis diminta mimpin doa. Rasanya seperti aneh, tapi nyata. Ayo…kapan dan kemana lagi nih kita piknik bareng???

Oleh: TRI JUMIATI T

Tambahan sms dari Faisal :
Lebaran besok, aku ingin semua anak cucu cicit dan mantu nya Eyang Uti kumpul di Kotagede, & rekreasi bersama, enggak usah jauh-jauh gpp, kayak waktu di Jember dulu.

Ibu / Eyang / Eyangyut Sriyati Hoedan

Prakata pembuka 

Ibu / Eyang / Eyangyut Sriyati Hoedan, selanjutnya kami sebut Ibu (karena yang menulis putranya), merupakan putri terkecil, ke 13, dari Eyang Wongsomirejo (selanjutnya kami sebut Eyang). Ibu lahir tanggal 12 September 1929 (di pasport tertulis lahir tanggal 5 Januari 1931) di desa Tegalduwur Kelurahan Pokak Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Menikah dengan Bapak / Eyang / Eyangyut R.Md Hoedan Projosubroto (selanjutnya kami sebut Bapak) pada tanggal 19 Agustus 1954 hari Kamis Kliwon. Karena Eyang Wongsomirejo kakung saat itu sudah meninggal, maka wali nikah saat itu adalah Pakdhe Sastrodarmojo (kakak kandung Ibu). Walimahan pernikahan Ibu dengan nanggap wayang kulit semalam suntuk. Dalangnya adalah Ki Sindu (rumahnya dekat pasar Klepu) dan lakon yang dipilih Parto Kromo.

Secara keturunan darah, antara Bapak dan Ibu masih ada hubungan darah. Sama-sama buyutnya Eyang Amatkariyo.Hubungan darah seperti ini sering disebut sebagai hubungan saudara misan. Dari pernikahan Ibu dengan Bapak, nama Ibu “berubah” menjadi Sriyati Hoedan dan dikaruniai anak 10 orang. Daftar nama anak ada di lampiran 1.

Masa Kecil 

Sebagai putri terkecil, apalagi dari 13 bersaudara, tentu saja ketika Ibu menginjak usia balita, Eyang Wongsomirejo sudah cukup sepuh. Inilah yang membuat Ibu sering berkata :”Aku sedih nek weruh Simbok (Eyang Wongsomirejo putri) wis uwanen !”. Bila Ibu sedih dan kemudian menangis, Eyang segera menggendongnya sambil “di-urak-urak-ke”. Jika Eyang berhenti ura-ura, Ibu akan nangis lagi.

Eyang Wongsomirejo putri “berprofesi” sebagai pedagang di pasar dan berjualan hasil bumi. Sementara Eyang Wongsomirejo kakung adalah seorang petani sekaligus peternak kerbau dan bebek. “Eyang putri bila di rumah mengenakan gelungan konde sedang kalau tindak bergelungan tekuk”, kata Ibu mengingat penampilan Eyang putri. Sementara Eyang Wongsomirejo kakung, bila akan “dahar” selalu berpenampilan rapih (pakai ikat kepala). Eyang sekalian sangat “gemati” pada putra-putrinya. Tidak pernah “ndukani” putra-putrinya. Ibu menikmati masa kecil penuh belaian sayang dua orangtuanya.

Tentang kasih sayangnya Eyang pada Ibu, antara lain tanggal 3 Desember 1978 Ibu menulis sajak :

Ibuku tak punya uang , tapi aku merengek terus minta soto
Akhirnya dituruti. Setelah selesai makan, Ibu bilang ke penjual soto
“Besok akan kubayar dengan seledri ya !”.
Hatiku pilu dan menyesal, kenapa aku nakal.

 Masa Sekolah 

Masa sekolah Ibu ditempuh cukup lama. Hal ini dikarenakan Ibu, di usia sekolah, mengalami tiga zaman pemerintahan. Penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan zaman kemerdekaan. Di samping sistem yang berbeda-beda, kadang juga harus berhenti sekolah karena adanya perang.

Pendidikan kelas I sampai kelas III (semacam Sekolah Dasar) ditempuh di Janti Pokak. Waktu berangkat sekolah, sering diganggu pemuda iseng (karena cantiknya kali !), maka Ibu ke sekolah harus dianter Pak Wakiman atau Bu Samilah (tetangga di Tegalduwur). Fasilitas pendidikan di desa waktu itu memang hanya sampai kelas III.

Semangat kepengin maju Ibu luar biasa, kebetulan didukung Eyang sekalian. Maka pendidikan di teruskan ke Kop School di kota Klaten. Mengingat jarak Tegalduwur-Klaten yang lumayan jauh (sekitar 9 km), maka Ibu dititipkan pada guru Kop School. Di rumah Pak Guru tersebut, Ibu diberi kamar tersendiri. Yang menjadi masalah adalah bila makan, lauknya saren (darah hewan yang beku kemudian digoreng). Ibu tidak mau saren. Saat Eyang nengokin, Ibu pulangnya ikut, tidak krasan di rumah Pak Guru Kop School itu. Karena itu pendidikan di Kop School dijalani Ibu hanya beberapa saat saja.

Akhirnya Ibu dititipin ke Eyang Mustajab (kelak menjadi mertuanya) yang memang tinggal di Mbareng Klaten. Di sinipun Ibu tidak betah lama. Ketika Eyang menengok, Ibu minta ikut pulang ke Tegalduwur.

Dengan penuh kasih sayang Ibu (yang kira-kira kelas IV) di gendhong di atas besek yang berisi pakaian untuk jalan kaki pulang ke Tegalduwur. Di tengah perjalanan ( yang masih gelap gulita) Eyang yang “nggendhong” besek dan di atasnya ada Ibu, berpapasan dengan orang yang nampaknya berniat tidak baik. Dengan penuh ketenangan, Eyang berkata :”Wuk, bapakmu le bebuang neng kalen cedak kono wis rampung apa durung ?”. Rupanya kalimat spontan yang dilontarkan Eyang tadi membuat si penjahat ketakutan dan lari.

Sekolah akhirnya diteruskan di “Sekolah Angka loro” (sampai kelas V) Ceper. Perjalanan Tegalduwur – Ceper ditempuh dengan berjalan kaki (jaraknya sekitar 3 km). Teman sekolahnya waktu itu antara lain Yu Sri Wening, putrinya Bude Mangunwidjaja (Budhe Lurah Klepu) kakaknya Mas Kunto Haryono. Bekalnya adalah uang Sak Ndil = ½ sen.

Setamat Sekolah Angka Loro di Ceper, Ibu meneruskan pendidikan di Sekolah Taman Siswa di Pedan. Gurunya saat itu antara lain Pakdhe Jaro (kakaknya Pakdhe Marwan), Pakdhe Marwan (Bapaknya Mbak Yeni) dan Bu Kati. Ketika itu masih zaman penjajahan Belanda, maka bahasa pengantar di Sekolah Taman Siswa adalah Bahasa Belanda. Ketika penjajah Jepang masuk, bahasa pengantar di sekolah harus memakai Bahasa Jepang. Namun tak lama kemudian sekolah ditutup.

Beberapa saat kemudian (masih masa penjajahan Jepang), Ibu bisa menamatkan SR (Sekolah Rakyat) di Ceper sampai kelas VI.Kemudian Ibu meneruskan pendidikan ke Sekolah Guru Putri (SGP) di Solo dan harus masuk asrama. Tahun 1945 ketika Jepang kalah, Ibu masih duduk di kelas I SGP. Beberapa saat kemudian (setelah pemerintahan RI) SGP dibuka lagi. Tahun 1947 Ibu bisa menyelesaikan SGP. Waktu itu bila angka kelulusan lebih dari tujuh, bisa meneruskan ke Sekolah Guru Atas (SGA), namun jika kurang dari tujuh, “hanya” bisa masuk SGP Kls IV.

Terjadilah perang Door Stood. Belanda yang ingin merebut kembali Indonesia, menjalankan politik perang bumi hangus. Salah satu korbannya adalah Ibu, dimana semua catatan pelajaran hilang (ikut dibakar Belanda). Angka kelulusan SGP Ibu ternyata di atas tujuh, sehingga ketika tahun 1949 SGA dibuka lagi, Ibu bisa masuk. Di sekolah ini muridnya harus masuk asrama. Selama di asrama inilah Ibu banyak mempunyai teman, sehingga sampai sekarang yang masih sugeng (banyak yang sudah seda) sering silaturahim kangen-kangenan. Tamat tahun 1952, dan langsung “dibenum” (ditugaskan) di Klaten. Sehingga masa sekolah Ibu (dari SD sampai tamat SGA, setingkat SMA) adalah lebih kurang 16 tahun !. Seperti ditulis di atas, hal ini karena masa penjajahan dan masa perang. Bukan karena ketidak mampuan Ibu lho, kenyataan bekas-bekas kecerdasan Ibu masih nampak hingga sekarang !.

Masa “Perjuangan” 

Penugasan pertama sebagai guru, setamat SGA, di SGB Klaten. Gaji yang diterima saat itu Rp. 400,-. Untuk kost dan makan, habis Rp100,-. Cukup berlebihlah gaji Ibu, sehingga di akhir pekan Ibu kundur ke Tegalduwur sambil membelikan buku pewayangan kegemaran Eyang Wongsomirejo.

Setelah menikah dengan Bapak (tahun 1954), Ibu mengikuti tugas Bapak (yang saat itu hampir selesai pendidikan Telkom , dulu namanya kursus PTT) di Bandung. Di Bandung Ibu mengajar di SD Latihan SGA yang terletak di Banjarsari Jln Merdeka Bandung, sementara Bapak-Ibu tinggal (ngontrak) di daerah Kiaracondong, sehingga jarak antara rumah dan tempat mengajar sekitar 4 – 5 km. Untuk tugas mengajar, Ibu naik sepeda dan mengenakan jarik !. Untuk adik-adik dan prunan-prunan yang tinggal di Bandung, terbayang nggak naik sepeda mengenakan jarik menelusuri Jln Merdeka Bandung ?.

E perjuangan bersepeda tadi belum selesai ceritanya (sekarang tinggal cerita, dulu Ibu nglakoni !). Yaitu dengan hamilnya Ibu untuk anak pertamanya. Rupanya Kepala Sekolah Sekolah Latihan SGA Banjarsari cukup bijaksana. Bapak-Ibu dicarikan kontrakan yang lebih dekat dengan sekolah. Akhirnya Bapak-Ibu dapat kontrakan di Jln Riau, di sebuah rumah model belanda (kaya rumahnya Om Basith !). Tapi “hanya” di garasinya saja !

Anak pertama (sekarang “terkenal” dengan nama/sebutan Bude Ninik, Bdn) lahir di RS Rancabadak (sekarang RS Hasan Sadikin) pada tanggal 25 Mei 1955 hari Rabu Wage jam 14.53. Pulang dari RS ya pulang ke rumah kontrakan garasi Jln. Riau tadi. Kebetulan sekali Bapak waktu itu menghadapi ujian akhir kursus PTT. Agar si kecil tidak mengganggu belajarnya Bapak, maka ia dititipkan di tempat penitipan bayi sehat. E lha kok nurun ke cucunya Bdn, dititipin di tempat penitipan anak.

Selesai pendidikan di Bandung, Bapak ditugaskan di Jakarta, Ibu ikut pindah ke Jakarta.

- Bulletin Pertama (1)

Wisata Ke Jember

            Jember adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dimana Kak Gunawan Abdul Basith (sebutan Basith di keluarga om Fauzi) bertempat tinggal, tepatnya di Kelurahan Semboro, Kecamatan Tanggul. Keinginan ke Semboro bersama Keluarga Bani Hoedan (KBH), muncul pada waktu penulis (di KBH dikenal dengan sebutan Bude Ninik atau BdN) selesai menjalankan tugas di BRI, dan suami penulis (di KBH di kenal dengan sebutan Pakde Wien atau PdW) selesai menjalankan tugas di SDI Yakmi. Pertimbangan kami, di Semboro tempat Kak GA Basith bertugas sebagai Sinder di Pabrik Gula PTPN XI, udaranya segar karena tinggal di perumahan lingkungan pabrik yang dulunya milik Belanda, dengan halaman yang luas penuh tanaman yang tinggi-tinggi, rumah kuno dengan pintu dan jendela yang besar-besar. Situasi seperti itu saat ini tentu sudah langka, apalagi di kota besar seperti Jakarta atau Bandung. Dengan harapan, jika KBH bisa menginap di sana bisa menikmati suasana sejuk segar menenteramkan sehingga mendapatkan kesan tersendiri, terutama bagi anak-anak. Alhamdulillah, keinginan tersebut mendapat dukungan dari Ibu dan Adik-Adik serta anak dan para keponakan, walaupun baru terealisasi kira-kira 2 tahun kemudian, yakni pada bulan Juli 2012.

Untuk menentukan waktu pelaksanaan wisata, perlu mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya anak-anak libur sekolah, orang tua mereka bisa cuti, dan Kak Basith ada kesempatan menerima kami. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya di tetapkan KBH ke Semboro, pada tanggal 7-9 Juli 2012. Rencana keberangkatan hari Sabtu tanggal 7 Juli 2012 jam 6 pagi hari. Namun ternyata masih ada kendala, karena tanggal 6 adalah tanggal pengumuman penerimaan siswa SMP Negeri IX Yogyakarta, kemudian tanggal 7 dan 9 Juli 2012 adalah tanggal pendaftaran ulang untuk siswa yang di terima di sekolah tersebut. Jika Fikri (anaknya Om Sapto nomor 3) di terima di sekolah tersebut, maka harus mendaftar ulang. Untuk merubah tanggal sewa bis ternyata sudah tidak bisa lagi, maka akhirnya di putuskan Om Sapto akan ke Jember tidak bersamaan dengan rombongan, tetapi menyusul dengan berangkat tanggal 7 sore naik bis umum. Bulik Warih telah berada di Yogya tanggal 5 Juli sore, dari Bandung naik kereta Lodaya pagi. Sedangkan dik Adin sekeluarga dari Bandung tanggal 6 sore naik kereta, di harapkan tanggal 7 pagi sampai Yogya dan langsung bergabung dengan rombongan bus menuju Jember. Rombongan Om Wijay dari Tambun (6 orang) telah berangkat duluan tanggal 5 Juli 2012 sore dengan kereta langsung Surabaya bergabung dengan Om Yoga (Manung). Rencananya tanggal 7 Juli sore bertemu dengan rombongan bus di Gempol untuk selanjutnya menuju Jember. Sedangkan Om Fauzi, dik Ikhsan dan istri (Sari) serta keluarga Om Bambang berhalangan hadir, karena berbagai sebab.

Manusia merencanakan, namun Alloh jua yang menentukan. Pada tanggal 6 Juli 2012 jam 23.00 petugas perusahaan bus yang di sewa memberitahukan bahwa saat itu bus masih di Gilimanuk, Bali dan baru siap menyeberang ke Ketapang. Hal tersebut terjadi karena padatnya lalu lintas penyeberangan ke/dari Bali selama musim liburan. Diperkirakan keberangkatan ke Jember baru bisa jam 16.00 bukan jam 6 lagi. Astaghfirullohaladziem. Apa boleh buat, dari pada dicarikan bus pengganti yang tidak di jamin kenyamanannya, maka diputuskan perubahan jadwal, berangkat dari Yogya ke Jember jam 4 sore, hari Sabtu. Semua ada hikmahnya, karena dengan demikian pendaftaran ulang ke SMP Negeri IX Yogyakarta (dimana Fikri di terima) bisa dilakukan pada tanggal 7 Juli, sehingga Om Sapto bisa berangkat bersama rombongan. Demikian juga, dik Adin beserta istri dan anaknya (Ayu dan Balqis) yang baru datang dari Bandung pagi hari, bisa istirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Semboro, Jember. Sedangkan rombongan Surabaya, akhirnya berangkat duluan ke Jember tanggal 7 siang menggunakan mobil Om Yoga.

Tanggal 7 juli 2012 jam 16.00 rombongan KBH berangkat dari Gedongan menuju Semboro Jember, dengan penumpang 21 orang. Daftar penumpang terlampir. Berhubung sedang musim liburan, suasana lalu lintas sangat padat, perjalanan Yogya-Klaten yang biasanya di tempuh tidak sampai 1 jam, saat itu harus di tempuh selama 2 jam. Rencana makan malam di Rumah Makan Duta, daerah Ngawi Jawa Timur, di rubah menjadi istirahat solat Maghrib dan Isya di lanjutkan makan malam di RM Taman Sari Solo. Ketika melanjutkan pejalanan kembali, setelah melewati kota Sragen sebenarnya lalu lintas lancar, namun ternyata sopir bus mengemudikannya dengan santai, nampaknya beliau capai/kecapaian. Berkali-kali si salib oleh bus dan kendaraan lainnya. Ditambah lagi, ketika masuk SPBU di 2 tempat ternyata solar habis, sedangkan SPBU ketiga lampunya sudah mati alias tutup. Muncul kekhawatiran jika solar di bus habis, jangan-jangan bus nya mogok dan perjalanan ke Jember tambah terlambat lagi. Namun Alhamdulillah akhirnya bertemu SPBU yang masih ada stok solarnya. Lagi-lagi perjalanan terpaksa di tunda karena nampaknya sopir bus mengantuk sehingga perlu ngopi dulu. Perjalanan selanjutnya lancar walau bus jalannya tidak seperti yang di harapkan Mas Imad dan Om Hasto… pelan, disalib kendaraan lain terus. Sholat subuh dilaksanakan di SPBU daerah Bangil, dan selama menunggu penumpang menjalankan sholat subuh, sopir bus sempat istirahat sejenak.

Baru jalan kira-kira satu jam perjalanan setelah menunaikan sholat subuh, ganti penumpangnya merasa lapar. Padahal untuk mencapai Semboro masih jauh, kira-kira 3 jam lagi, sedangkan keluarga kak Basith sebenarnya sudah menyediakan sarapan dengan menu soto ayam, perkedel, tempe goreng dan kerupuk. Melalui telepon, penulis negosiasi dengan Siti, istri kak Basith yang akhirnya disepakati nasi soto yang sudah disiapkan di rumah kak Basith dirubah menjadi santapan makan siang. Rencana makan siang di pantai Papuma berubah menjadi makan sore. Dengan kesepakatan tersebut, rombongan berhenti di Pasuruhan, sarapan di RM Panorama dengan menu soto, ayam goreng, cap cay, fuyunghay serta krupuk dan minum teh panas plus buah semangka. Setelah kenyang sarapan, bus melenggang lagi (maksudnya jalan pelan) menuju Semboro. Namun beberapa saat sebelum sampai, ada penumpang yang mau pipis… Bus berhenti lagi di SBPU.

Alhamdulillah, pada kira-kira jam 9.30 akhirnya rombongan bus sampai di Semboro, setelah di jemput Om Yoga alias Manung di Tanggul, tepi jalan sebelum masuk Semboro. Di rumah “Loji Belanda” telah disediakan hamparan kasur banyak sekali, sehingga yang capai duduk di bus sepanjang malam bisa rebahan di kasur empuk sambil menunggu antrian ke kamar mandi. Di rumah kak Basith, ada 2 kamar mandi, satu di dalam rumah dan satunya lagi di samping belakang rumah. Bisa dibayangkan 2 kamar mandi diserbu penumpang bis yang jumlahnya 21 orang. Belum lagi di tambah keluarga tuan rumah 4 orang dan keluarga Tambun/Surabaya 7 orang yang sudah datang duluan. Jadi ada hikmahnya bus berhenti di SBPU tadi, karena sebagian penumpang sudah pipis di sana. Untungnya lagi sampai Semboro siang hari, jadi di kamar mandi belakang juga tidak masalah. Kalau malam hari? Hiiiii… Mengapa? Halaman belakang rumah kak Basith sangat luas, sinar lampu listrik yang di pasang tidak mungkin menerangi seluruh halaman. Bagi yang belum pernah ke kebun belakang rumah kak Basith dikala siang benderang, yang nampak adalah remang-remang dengan gemerisik daun yang di tiup angin.

Suasana rumah kak Basith yang teduh, dengan semilir angin sepoi-sepoi, di musim kemarau yang dingin, dan capai karena semalaman di jalan, menyebabkan pada tidur bergelimpangan di kasur. Akan tetapi anak-anak tidak mengenal capai, mereka bermain riang gembira bertemu dengan suadara-saudaranya. Di pekarangan pabrik yang luas dikelilingi pepohonan yang rindang, tersedia pula perangkat permainan anak seperti ayunan, jungkat-jungkit, komedi putar, di tambah sepeda kecil milik Nashwa anaknya kak Basith, menambah riang gembira anak-anak bermain. Sekembalinya dari menemani cucu bermain, ternyata yang pada tiduran sudah pada bangun, makan soto yang sangat lezat sambil berbincang-bincang. Ada juga yang bergaya bak fotografer, memotret sana sini, rumah kak Basith jadi sasaran kamera mulai dari halaman depan dari berbagai sisi, juga halaman belakang. Tak luput, jendela dan pintu ikut dipotret juga. Akhirnya kita potret bersama walau tidak bisa selalu lengkap. Yang satu datang, lainnya pergi dengan berbagai keperluan.

Ketika sudah jam 14.00, Om Yoga terpaksa ke Surabaya duluan karena besok pagi Rizal, putranya, harus masuk sekolah, hari pertama di SMP Muhammadiyah Surabaya. Setelah melepas keberangkatan Om Yoga, KBH naik bus menuju pantai Papuma (Pasir Putih Mutiara). Perjalanan dari Semboro ke pantai Papuma kurang lebih 1 jam 30 menit, melewati jalan raya, jalan pinggir hutan jati, ada yang subur ke hijauan namun ada juga yang meranggas tinggal batang, dahan dan ranting. Ternyata perjalanan selanjutnya naik gunung dengan pemandangan hutan, sehingga ada yang komentar : “Ini mau ke pantai atau ke gunung sih?” Tak kalah serunya, tanjakan sangat terjal dan jalanan sempit… aduuuh, tahan napas deh, karena ngeri. Alhamdulillah bus diizinkan sampai dekat pantai, sehingga untuk mencapai tepi pantai tidak perlu jalan kaki jauh. Wussss, angin kencang dan udara dingin sekali menyambut kehadiran KBH di pantai Papuma. Angin dingin tersebut menurut keterangan karena pengaruh musim dingin di rumah Kang Adam (Australia). Akan tetapi dengan pemandangan yang sangat indah, nampak beberapa batu karang menjulang tinggi di pantai, kapal nelayan berjajar warna-warni, dan pasirnya yang lembut putih, menjadikan Papuma menarik untuk di dekati. Untung anak-anak bawa jaket, topi, dan selendangpun bisa di manfaatkan sebagai selimut. Kembali fotografer beraksi mengambil gambar pemandangan pantai yang sangat menawan. Eyang Uti asyik menikmati pemandangan pantai sambil di terpa angin dingin, tak sedikitpun nampak Eyang kedinginan. Anak cucu mengerumuninya dan tak lama kemudian muncul hidangan kelapa muda utuh yang sangat menyegarkan, daging kelapanya sangat lezat. Belum juga minuman habis, muncul ikan bakar yang menggiurkan di tambah sambal dan lalapannya. Muncul lagi cumi-cumi di masak saus tiram…. Nyam…nyam…nyam. Semua asyik makan. Ketika perut sudah kenyang dan senja mulai turun, rombongan KBH bergegas menuju bus untuk kembali ke Semboro. Bus berjalan perlahan, walau bunyi mesin bus tambah kencang karena di tambah suara dengkur penumpang yang kekenyangan dan ketiduran…

Sampai rumah sudah malam, acara selanjutnya antri mandi bagi yang merasa ingin mandi dan mencari tempat untuk tidur. Ada yang bisa langsung tidur, namun ada juga yang masih nonton tivi, atau ngobrol di teras, sambil mencari-cari tempat yang masih kosong untuk merebahkan diri. Gelaran tikar dari kayu yang semula untuk menyajikan minuman dan kue-kue, di sulap menjadi tempat tidur. Bahkan Faisal tidur beralaskan sajadah di kolong meja makan, sedang Opang tidur di depan tivi beralaskan busa yang bisa di sambung-sambung menjadi hamparan alas tidur. Ketika jam telah menunjukkan pukul 23.00, semua pada pules tidur, hanya Deroem yang masih mondar-mandir mengamati posisi tidur kita semua. Kira-kira jam 24.00 terdengar suara orang bebenah bawaan, ternyata Bulik Warih, dik Adin, dik Ayu dan Balqis sedang siap-siap karena harus berangkat ke stasiun, akan melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung dengan Kereta Mutiara Selatan dari Tanggul jam 01.30. Sebuah perjuangan luar biasa untuk bisa rekreasi bersama, rombongan Bandung berangkat dini hari, agar sampai Surabaya pagi hari, sambung kereta api menuju Bandung. Setelah melepas keberangkatan bulik Warih cs diantar kak Basith, penulis, Deroem dan dik Siti, masuk rumah melanjutkan tidur lagi. Wezzzzz pulas semua tidurnya, napas teratur menjadi irama merdu di rumah kak Basith malam itu. Hanya kadang terdengar suara rintihan anak-anak yang terusik tidurnya karena bersenggolan satu sama lain.

Pagi hari tanggal 9 Juli 2012 di Semboro, suasana masih dingin, namun satu persatu sudah mulai pada bangun, antri kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudlu untuk sholat subuh. Semula direncanakan sholat subuh di Mushola pabrik, kemudian bincang-bincang dan jalan-jalan di seputar pabrik. Namun karena masih pada ngantuk plus capai, akhirnya hanya ngobrol sambil bebenah bawaan, siap-siap pulang kembali ke rumah-masing-masing. Dik Siti menghidangkan teh dan kopi serta roti bakar hangat dan lezat, anak-anak dan orang tuanya juga, yang sudah bangun menyerbu hidangan dengan lahapnya. Ketika sudah selesai mandi dan berdandan, telah ditunggu oleh nasi rawon dan telor asin, sambel terasi dan lalap toge. Hemm sarapan yang lezat sekali. Udara masih dingin, namun suasana hati KBH menghangatkan, sehingga sebenarnya masih ingin berada di Semboro untuk beberapa lama lagi. Namun, mengingat masih akan menempuh perjalanan jauh, Yogya, Tambun, maka dengan berat hati dan rasa enggan, rombongan KBH berpamitan kepada Kak Basith, dik Siti, Naswha dan Farzan serta seorang Ibu (maaf lupa namanya) yang membantu dik Siti menyiapkan hidangan makan KBH. Rombongan berangkat dari “Loji Belanda” jam 7.55 untuk melanjutkan perjalanan kembali ke rumah masing-masing, dengan membawa sejuta kenangan manis nan indah.

Saat adzan Dhuhur, bus sampai di Japanan (bukan Jepang tetapi daerah setelah Gempol), berhenti di rumah makan Lumintu, untuk istirahat sholat dan makan siang. Aneka hidangan tersedia tinggal memilih yang disukai, ada sop buntut, asem-asem ikan, kikil, aneka oseng, perkedel, ayam, ikan goreng dsb. Om Yoga alias Manung bergabung lagi di rumah makan tersebut. Selesai sholat dan makan, om Wijay cs memisahkan diri, bergabung dengan Om Yoga karena akan melanjutkan perjalanan ke tambun naik Kereta pada sore harinya. Sedangkan rombongan bus melanjutkan perjalanan ke Yogya dengan penumpang yang menjadi sedikit, banyak tempat duduk kosong. Satu orang bisa menempati dua kursi untuk tidur. Sampai di RM Duta, Ngawi pada jam 18.30, rombongan istirahat dan makan malam serta ada yang sholat. Nampaknya sudah pada capai, sehingga makan malam pada kurang semangat walau habis sepiring juga. Perjalanan lanjut lagi dengan hening diiringi suara dengkur teratur. Sampai Gedongan jam 23.00. Alhamdulillah, sampai dengan selamat.

Beberapa kenangan yang sempat penulis catat, ketika anak-anaknya Om Sapto di tanya, seneng apa tidak bepergian seperti ini? Jawabnya senang karena ketemu saudara-saudaranya. Sepanjang perjalanan, ketika bus akan berangkat lagi setelah berhenti dari perjalanan, penulis minta masing-masing mengabsen anak cucunya supaya tidak ada yang ketinggalan. Eeeh, Eyang Uti terus berdiri mau mengabsen seluruh penumpang…. Hehehe, ya iyalah, kan seluruh penumpang anak cucu buyut Yang Uti.. Meskipun acara yang telah di susun, khususnya untuk beramah tamah mendengarkan wejangan pinisepuh, tidak bisa di laksanakan, mudah-mudahan tetap menyenangkan bagi KBH semuanya. Terima kasih kepada Kak Basith yang sudah bersedia ketempatan pertemuan KBH dengan sambutan dan hidangan yang disajikan. Tentu banyak pengorbanan, termasuk harus meminjam kasur, membersihkan dan mengatur tempat sebelum dan sesudah kedatangan KBH. Kita harus selalu bersyukur kepada Alloh atas nikmat dan karunia Nya, dengan bersyukur, Alloh akan menambah nikmatnya kepada kita semua. Alhamdulillah… Gedongan, 21 Juli 2012. BdN.