Ibu / Eyang / Eyangyut Sriyati Hoedan
Prakata pembuka
Ibu / Eyang / Eyangyut Sriyati Hoedan, selanjutnya kami sebut Ibu (karena yang menulis putranya), merupakan putri terkecil, ke 13, dari Eyang Wongsomirejo (selanjutnya kami sebut Eyang). Ibu lahir tanggal 12 September 1929 (di pasport tertulis lahir tanggal 5 Januari 1931) di desa Tegalduwur Kelurahan Pokak Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten Jawa Tengah.
Menikah dengan Bapak / Eyang / Eyangyut R.Md Hoedan Projosubroto (selanjutnya kami sebut Bapak) pada tanggal 19 Agustus 1954 hari Kamis Kliwon. Karena Eyang Wongsomirejo kakung saat itu sudah meninggal, maka wali nikah saat itu adalah Pakdhe Sastrodarmojo (kakak kandung Ibu). Walimahan pernikahan Ibu dengan nanggap wayang kulit semalam suntuk. Dalangnya adalah Ki Sindu (rumahnya dekat pasar Klepu) dan lakon yang dipilih Parto Kromo.
Secara keturunan darah, antara Bapak dan Ibu masih ada hubungan darah. Sama-sama buyutnya Eyang Amatkariyo.Hubungan darah seperti ini sering disebut sebagai hubungan saudara misan. Dari pernikahan Ibu dengan Bapak, nama Ibu “berubah” menjadi Sriyati Hoedan dan dikaruniai anak 10 orang. Daftar nama anak ada di lampiran 1.
Masa Kecil
Sebagai putri terkecil, apalagi dari 13 bersaudara, tentu saja ketika Ibu menginjak usia balita, Eyang Wongsomirejo sudah cukup sepuh. Inilah yang membuat Ibu sering berkata :”Aku sedih nek weruh Simbok (Eyang Wongsomirejo putri) wis uwanen !”. Bila Ibu sedih dan kemudian menangis, Eyang segera menggendongnya sambil “di-urak-urak-ke”. Jika Eyang berhenti ura-ura, Ibu akan nangis lagi.
Eyang Wongsomirejo putri “berprofesi” sebagai pedagang di pasar dan berjualan hasil bumi. Sementara Eyang Wongsomirejo kakung adalah seorang petani sekaligus peternak kerbau dan bebek. “Eyang putri bila di rumah mengenakan gelungan konde sedang kalau tindak bergelungan tekuk”, kata Ibu mengingat penampilan Eyang putri. Sementara Eyang Wongsomirejo kakung, bila akan “dahar” selalu berpenampilan rapih (pakai ikat kepala). Eyang sekalian sangat “gemati” pada putra-putrinya. Tidak pernah “ndukani” putra-putrinya. Ibu menikmati masa kecil penuh belaian sayang dua orangtuanya.
Tentang kasih sayangnya Eyang pada Ibu, antara lain tanggal 3 Desember 1978 Ibu menulis sajak :
Ibuku tak punya uang , tapi aku merengek terus minta soto
Akhirnya dituruti. Setelah selesai makan, Ibu bilang ke penjual soto
“Besok akan kubayar dengan seledri ya !”.
Hatiku pilu dan menyesal, kenapa aku nakal.
Masa Sekolah
Masa sekolah Ibu ditempuh cukup lama. Hal ini dikarenakan Ibu, di usia sekolah, mengalami tiga zaman pemerintahan. Penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan zaman kemerdekaan. Di samping sistem yang berbeda-beda, kadang juga harus berhenti sekolah karena adanya perang.
Pendidikan kelas I sampai kelas III (semacam Sekolah Dasar) ditempuh di Janti Pokak. Waktu berangkat sekolah, sering diganggu pemuda iseng (karena cantiknya kali !), maka Ibu ke sekolah harus dianter Pak Wakiman atau Bu Samilah (tetangga di Tegalduwur). Fasilitas pendidikan di desa waktu itu memang hanya sampai kelas III.
Semangat kepengin maju Ibu luar biasa, kebetulan didukung Eyang sekalian. Maka pendidikan di teruskan ke Kop School di kota Klaten. Mengingat jarak Tegalduwur-Klaten yang lumayan jauh (sekitar 9 km), maka Ibu dititipkan pada guru Kop School. Di rumah Pak Guru tersebut, Ibu diberi kamar tersendiri. Yang menjadi masalah adalah bila makan, lauknya saren (darah hewan yang beku kemudian digoreng). Ibu tidak mau saren. Saat Eyang nengokin, Ibu pulangnya ikut, tidak krasan di rumah Pak Guru Kop School itu. Karena itu pendidikan di Kop School dijalani Ibu hanya beberapa saat saja.
Akhirnya Ibu dititipin ke Eyang Mustajab (kelak menjadi mertuanya) yang memang tinggal di Mbareng Klaten. Di sinipun Ibu tidak betah lama. Ketika Eyang menengok, Ibu minta ikut pulang ke Tegalduwur.
Dengan penuh kasih sayang Ibu (yang kira-kira kelas IV) di gendhong di atas besek yang berisi pakaian untuk jalan kaki pulang ke Tegalduwur. Di tengah perjalanan ( yang masih gelap gulita) Eyang yang “nggendhong” besek dan di atasnya ada Ibu, berpapasan dengan orang yang nampaknya berniat tidak baik. Dengan penuh ketenangan, Eyang berkata :”Wuk, bapakmu le bebuang neng kalen cedak kono wis rampung apa durung ?”. Rupanya kalimat spontan yang dilontarkan Eyang tadi membuat si penjahat ketakutan dan lari.
Sekolah akhirnya diteruskan di “Sekolah Angka loro” (sampai kelas V) Ceper. Perjalanan Tegalduwur – Ceper ditempuh dengan berjalan kaki (jaraknya sekitar 3 km). Teman sekolahnya waktu itu antara lain Yu Sri Wening, putrinya Bude Mangunwidjaja (Budhe Lurah Klepu) kakaknya Mas Kunto Haryono. Bekalnya adalah uang Sak Ndil = ½ sen.
Setamat Sekolah Angka Loro di Ceper, Ibu meneruskan pendidikan di Sekolah Taman Siswa di Pedan. Gurunya saat itu antara lain Pakdhe Jaro (kakaknya Pakdhe Marwan), Pakdhe Marwan (Bapaknya Mbak Yeni) dan Bu Kati. Ketika itu masih zaman penjajahan Belanda, maka bahasa pengantar di Sekolah Taman Siswa adalah Bahasa Belanda. Ketika penjajah Jepang masuk, bahasa pengantar di sekolah harus memakai Bahasa Jepang. Namun tak lama kemudian sekolah ditutup.
Beberapa saat kemudian (masih masa penjajahan Jepang), Ibu bisa menamatkan SR (Sekolah Rakyat) di Ceper sampai kelas VI.Kemudian Ibu meneruskan pendidikan ke Sekolah Guru Putri (SGP) di Solo dan harus masuk asrama. Tahun 1945 ketika Jepang kalah, Ibu masih duduk di kelas I SGP. Beberapa saat kemudian (setelah pemerintahan RI) SGP dibuka lagi. Tahun 1947 Ibu bisa menyelesaikan SGP. Waktu itu bila angka kelulusan lebih dari tujuh, bisa meneruskan ke Sekolah Guru Atas (SGA), namun jika kurang dari tujuh, “hanya” bisa masuk SGP Kls IV.
Terjadilah perang Door Stood. Belanda yang ingin merebut kembali Indonesia, menjalankan politik perang bumi hangus. Salah satu korbannya adalah Ibu, dimana semua catatan pelajaran hilang (ikut dibakar Belanda). Angka kelulusan SGP Ibu ternyata di atas tujuh, sehingga ketika tahun 1949 SGA dibuka lagi, Ibu bisa masuk. Di sekolah ini muridnya harus masuk asrama. Selama di asrama inilah Ibu banyak mempunyai teman, sehingga sampai sekarang yang masih sugeng (banyak yang sudah seda) sering silaturahim kangen-kangenan. Tamat tahun 1952, dan langsung “dibenum” (ditugaskan) di Klaten. Sehingga masa sekolah Ibu (dari SD sampai tamat SGA, setingkat SMA) adalah lebih kurang 16 tahun !. Seperti ditulis di atas, hal ini karena masa penjajahan dan masa perang. Bukan karena ketidak mampuan Ibu lho, kenyataan bekas-bekas kecerdasan Ibu masih nampak hingga sekarang !.
Masa “Perjuangan”
Penugasan pertama sebagai guru, setamat SGA, di SGB Klaten. Gaji yang diterima saat itu Rp. 400,-. Untuk kost dan makan, habis Rp100,-. Cukup berlebihlah gaji Ibu, sehingga di akhir pekan Ibu kundur ke Tegalduwur sambil membelikan buku pewayangan kegemaran Eyang Wongsomirejo.
Setelah menikah dengan Bapak (tahun 1954), Ibu mengikuti tugas Bapak (yang saat itu hampir selesai pendidikan Telkom , dulu namanya kursus PTT) di Bandung. Di Bandung Ibu mengajar di SD Latihan SGA yang terletak di Banjarsari Jln Merdeka Bandung, sementara Bapak-Ibu tinggal (ngontrak) di daerah Kiaracondong, sehingga jarak antara rumah dan tempat mengajar sekitar 4 – 5 km. Untuk tugas mengajar, Ibu naik sepeda dan mengenakan jarik !. Untuk adik-adik dan prunan-prunan yang tinggal di Bandung, terbayang nggak naik sepeda mengenakan jarik menelusuri Jln Merdeka Bandung ?.
E perjuangan bersepeda tadi belum selesai ceritanya (sekarang tinggal cerita, dulu Ibu nglakoni !). Yaitu dengan hamilnya Ibu untuk anak pertamanya. Rupanya Kepala Sekolah Sekolah Latihan SGA Banjarsari cukup bijaksana. Bapak-Ibu dicarikan kontrakan yang lebih dekat dengan sekolah. Akhirnya Bapak-Ibu dapat kontrakan di Jln Riau, di sebuah rumah model belanda (kaya rumahnya Om Basith !). Tapi “hanya” di garasinya saja !
Anak pertama (sekarang “terkenal” dengan nama/sebutan Bude Ninik, Bdn) lahir di RS Rancabadak (sekarang RS Hasan Sadikin) pada tanggal 25 Mei 1955 hari Rabu Wage jam 14.53. Pulang dari RS ya pulang ke rumah kontrakan garasi Jln. Riau tadi. Kebetulan sekali Bapak waktu itu menghadapi ujian akhir kursus PTT. Agar si kecil tidak mengganggu belajarnya Bapak, maka ia dititipkan di tempat penitipan bayi sehat. E lha kok nurun ke cucunya Bdn, dititipin di tempat penitipan anak.
Selesai pendidikan di Bandung, Bapak ditugaskan di Jakarta, Ibu ikut pindah ke Jakarta.
- Bulletin Pertama (1)
Ibu / Eyang / Eyangyut Sriyati Hoedan, selanjutnya kami sebut Ibu (karena yang menulis putranya), merupakan putri terkecil, ke 13, dari Eyang Wongsomirejo (selanjutnya kami sebut Eyang). Ibu lahir tanggal 12 September 1929 (di pasport tertulis lahir tanggal 5 Januari 1931) di desa Tegalduwur Kelurahan Pokak Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten Jawa Tengah.
Menikah dengan Bapak / Eyang / Eyangyut R.Md Hoedan Projosubroto (selanjutnya kami sebut Bapak) pada tanggal 19 Agustus 1954 hari Kamis Kliwon. Karena Eyang Wongsomirejo kakung saat itu sudah meninggal, maka wali nikah saat itu adalah Pakdhe Sastrodarmojo (kakak kandung Ibu). Walimahan pernikahan Ibu dengan nanggap wayang kulit semalam suntuk. Dalangnya adalah Ki Sindu (rumahnya dekat pasar Klepu) dan lakon yang dipilih Parto Kromo.
Secara keturunan darah, antara Bapak dan Ibu masih ada hubungan darah. Sama-sama buyutnya Eyang Amatkariyo.Hubungan darah seperti ini sering disebut sebagai hubungan saudara misan. Dari pernikahan Ibu dengan Bapak, nama Ibu “berubah” menjadi Sriyati Hoedan dan dikaruniai anak 10 orang. Daftar nama anak ada di lampiran 1.
Masa Kecil
Sebagai putri terkecil, apalagi dari 13 bersaudara, tentu saja ketika Ibu menginjak usia balita, Eyang Wongsomirejo sudah cukup sepuh. Inilah yang membuat Ibu sering berkata :”Aku sedih nek weruh Simbok (Eyang Wongsomirejo putri) wis uwanen !”. Bila Ibu sedih dan kemudian menangis, Eyang segera menggendongnya sambil “di-urak-urak-ke”. Jika Eyang berhenti ura-ura, Ibu akan nangis lagi.
Eyang Wongsomirejo putri “berprofesi” sebagai pedagang di pasar dan berjualan hasil bumi. Sementara Eyang Wongsomirejo kakung adalah seorang petani sekaligus peternak kerbau dan bebek. “Eyang putri bila di rumah mengenakan gelungan konde sedang kalau tindak bergelungan tekuk”, kata Ibu mengingat penampilan Eyang putri. Sementara Eyang Wongsomirejo kakung, bila akan “dahar” selalu berpenampilan rapih (pakai ikat kepala). Eyang sekalian sangat “gemati” pada putra-putrinya. Tidak pernah “ndukani” putra-putrinya. Ibu menikmati masa kecil penuh belaian sayang dua orangtuanya.
Tentang kasih sayangnya Eyang pada Ibu, antara lain tanggal 3 Desember 1978 Ibu menulis sajak :
Ibuku tak punya uang , tapi aku merengek terus minta soto
Akhirnya dituruti. Setelah selesai makan, Ibu bilang ke penjual soto
“Besok akan kubayar dengan seledri ya !”.
Hatiku pilu dan menyesal, kenapa aku nakal.
Masa Sekolah
Masa sekolah Ibu ditempuh cukup lama. Hal ini dikarenakan Ibu, di usia sekolah, mengalami tiga zaman pemerintahan. Penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan zaman kemerdekaan. Di samping sistem yang berbeda-beda, kadang juga harus berhenti sekolah karena adanya perang.
Pendidikan kelas I sampai kelas III (semacam Sekolah Dasar) ditempuh di Janti Pokak. Waktu berangkat sekolah, sering diganggu pemuda iseng (karena cantiknya kali !), maka Ibu ke sekolah harus dianter Pak Wakiman atau Bu Samilah (tetangga di Tegalduwur). Fasilitas pendidikan di desa waktu itu memang hanya sampai kelas III.
Semangat kepengin maju Ibu luar biasa, kebetulan didukung Eyang sekalian. Maka pendidikan di teruskan ke Kop School di kota Klaten. Mengingat jarak Tegalduwur-Klaten yang lumayan jauh (sekitar 9 km), maka Ibu dititipkan pada guru Kop School. Di rumah Pak Guru tersebut, Ibu diberi kamar tersendiri. Yang menjadi masalah adalah bila makan, lauknya saren (darah hewan yang beku kemudian digoreng). Ibu tidak mau saren. Saat Eyang nengokin, Ibu pulangnya ikut, tidak krasan di rumah Pak Guru Kop School itu. Karena itu pendidikan di Kop School dijalani Ibu hanya beberapa saat saja.
Akhirnya Ibu dititipin ke Eyang Mustajab (kelak menjadi mertuanya) yang memang tinggal di Mbareng Klaten. Di sinipun Ibu tidak betah lama. Ketika Eyang menengok, Ibu minta ikut pulang ke Tegalduwur.
Dengan penuh kasih sayang Ibu (yang kira-kira kelas IV) di gendhong di atas besek yang berisi pakaian untuk jalan kaki pulang ke Tegalduwur. Di tengah perjalanan ( yang masih gelap gulita) Eyang yang “nggendhong” besek dan di atasnya ada Ibu, berpapasan dengan orang yang nampaknya berniat tidak baik. Dengan penuh ketenangan, Eyang berkata :”Wuk, bapakmu le bebuang neng kalen cedak kono wis rampung apa durung ?”. Rupanya kalimat spontan yang dilontarkan Eyang tadi membuat si penjahat ketakutan dan lari.
Sekolah akhirnya diteruskan di “Sekolah Angka loro” (sampai kelas V) Ceper. Perjalanan Tegalduwur – Ceper ditempuh dengan berjalan kaki (jaraknya sekitar 3 km). Teman sekolahnya waktu itu antara lain Yu Sri Wening, putrinya Bude Mangunwidjaja (Budhe Lurah Klepu) kakaknya Mas Kunto Haryono. Bekalnya adalah uang Sak Ndil = ½ sen.
Setamat Sekolah Angka Loro di Ceper, Ibu meneruskan pendidikan di Sekolah Taman Siswa di Pedan. Gurunya saat itu antara lain Pakdhe Jaro (kakaknya Pakdhe Marwan), Pakdhe Marwan (Bapaknya Mbak Yeni) dan Bu Kati. Ketika itu masih zaman penjajahan Belanda, maka bahasa pengantar di Sekolah Taman Siswa adalah Bahasa Belanda. Ketika penjajah Jepang masuk, bahasa pengantar di sekolah harus memakai Bahasa Jepang. Namun tak lama kemudian sekolah ditutup.
Beberapa saat kemudian (masih masa penjajahan Jepang), Ibu bisa menamatkan SR (Sekolah Rakyat) di Ceper sampai kelas VI.Kemudian Ibu meneruskan pendidikan ke Sekolah Guru Putri (SGP) di Solo dan harus masuk asrama. Tahun 1945 ketika Jepang kalah, Ibu masih duduk di kelas I SGP. Beberapa saat kemudian (setelah pemerintahan RI) SGP dibuka lagi. Tahun 1947 Ibu bisa menyelesaikan SGP. Waktu itu bila angka kelulusan lebih dari tujuh, bisa meneruskan ke Sekolah Guru Atas (SGA), namun jika kurang dari tujuh, “hanya” bisa masuk SGP Kls IV.
Terjadilah perang Door Stood. Belanda yang ingin merebut kembali Indonesia, menjalankan politik perang bumi hangus. Salah satu korbannya adalah Ibu, dimana semua catatan pelajaran hilang (ikut dibakar Belanda). Angka kelulusan SGP Ibu ternyata di atas tujuh, sehingga ketika tahun 1949 SGA dibuka lagi, Ibu bisa masuk. Di sekolah ini muridnya harus masuk asrama. Selama di asrama inilah Ibu banyak mempunyai teman, sehingga sampai sekarang yang masih sugeng (banyak yang sudah seda) sering silaturahim kangen-kangenan. Tamat tahun 1952, dan langsung “dibenum” (ditugaskan) di Klaten. Sehingga masa sekolah Ibu (dari SD sampai tamat SGA, setingkat SMA) adalah lebih kurang 16 tahun !. Seperti ditulis di atas, hal ini karena masa penjajahan dan masa perang. Bukan karena ketidak mampuan Ibu lho, kenyataan bekas-bekas kecerdasan Ibu masih nampak hingga sekarang !.
Masa “Perjuangan”
Penugasan pertama sebagai guru, setamat SGA, di SGB Klaten. Gaji yang diterima saat itu Rp. 400,-. Untuk kost dan makan, habis Rp100,-. Cukup berlebihlah gaji Ibu, sehingga di akhir pekan Ibu kundur ke Tegalduwur sambil membelikan buku pewayangan kegemaran Eyang Wongsomirejo.
Setelah menikah dengan Bapak (tahun 1954), Ibu mengikuti tugas Bapak (yang saat itu hampir selesai pendidikan Telkom , dulu namanya kursus PTT) di Bandung. Di Bandung Ibu mengajar di SD Latihan SGA yang terletak di Banjarsari Jln Merdeka Bandung, sementara Bapak-Ibu tinggal (ngontrak) di daerah Kiaracondong, sehingga jarak antara rumah dan tempat mengajar sekitar 4 – 5 km. Untuk tugas mengajar, Ibu naik sepeda dan mengenakan jarik !. Untuk adik-adik dan prunan-prunan yang tinggal di Bandung, terbayang nggak naik sepeda mengenakan jarik menelusuri Jln Merdeka Bandung ?.
E perjuangan bersepeda tadi belum selesai ceritanya (sekarang tinggal cerita, dulu Ibu nglakoni !). Yaitu dengan hamilnya Ibu untuk anak pertamanya. Rupanya Kepala Sekolah Sekolah Latihan SGA Banjarsari cukup bijaksana. Bapak-Ibu dicarikan kontrakan yang lebih dekat dengan sekolah. Akhirnya Bapak-Ibu dapat kontrakan di Jln Riau, di sebuah rumah model belanda (kaya rumahnya Om Basith !). Tapi “hanya” di garasinya saja !
Anak pertama (sekarang “terkenal” dengan nama/sebutan Bude Ninik, Bdn) lahir di RS Rancabadak (sekarang RS Hasan Sadikin) pada tanggal 25 Mei 1955 hari Rabu Wage jam 14.53. Pulang dari RS ya pulang ke rumah kontrakan garasi Jln. Riau tadi. Kebetulan sekali Bapak waktu itu menghadapi ujian akhir kursus PTT. Agar si kecil tidak mengganggu belajarnya Bapak, maka ia dititipkan di tempat penitipan bayi sehat. E lha kok nurun ke cucunya Bdn, dititipin di tempat penitipan anak.
Selesai pendidikan di Bandung, Bapak ditugaskan di Jakarta, Ibu ikut pindah ke Jakarta.
- Bulletin Pertama (1)