Tampilkan postingan dengan label kumpul-kumpul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpul-kumpul. Tampilkan semua postingan

Wisata Ke Jember

            Jember adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dimana Kak Gunawan Abdul Basith (sebutan Basith di keluarga om Fauzi) bertempat tinggal, tepatnya di Kelurahan Semboro, Kecamatan Tanggul. Keinginan ke Semboro bersama Keluarga Bani Hoedan (KBH), muncul pada waktu penulis (di KBH dikenal dengan sebutan Bude Ninik atau BdN) selesai menjalankan tugas di BRI, dan suami penulis (di KBH di kenal dengan sebutan Pakde Wien atau PdW) selesai menjalankan tugas di SDI Yakmi. Pertimbangan kami, di Semboro tempat Kak GA Basith bertugas sebagai Sinder di Pabrik Gula PTPN XI, udaranya segar karena tinggal di perumahan lingkungan pabrik yang dulunya milik Belanda, dengan halaman yang luas penuh tanaman yang tinggi-tinggi, rumah kuno dengan pintu dan jendela yang besar-besar. Situasi seperti itu saat ini tentu sudah langka, apalagi di kota besar seperti Jakarta atau Bandung. Dengan harapan, jika KBH bisa menginap di sana bisa menikmati suasana sejuk segar menenteramkan sehingga mendapatkan kesan tersendiri, terutama bagi anak-anak. Alhamdulillah, keinginan tersebut mendapat dukungan dari Ibu dan Adik-Adik serta anak dan para keponakan, walaupun baru terealisasi kira-kira 2 tahun kemudian, yakni pada bulan Juli 2012.

Untuk menentukan waktu pelaksanaan wisata, perlu mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya anak-anak libur sekolah, orang tua mereka bisa cuti, dan Kak Basith ada kesempatan menerima kami. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya di tetapkan KBH ke Semboro, pada tanggal 7-9 Juli 2012. Rencana keberangkatan hari Sabtu tanggal 7 Juli 2012 jam 6 pagi hari. Namun ternyata masih ada kendala, karena tanggal 6 adalah tanggal pengumuman penerimaan siswa SMP Negeri IX Yogyakarta, kemudian tanggal 7 dan 9 Juli 2012 adalah tanggal pendaftaran ulang untuk siswa yang di terima di sekolah tersebut. Jika Fikri (anaknya Om Sapto nomor 3) di terima di sekolah tersebut, maka harus mendaftar ulang. Untuk merubah tanggal sewa bis ternyata sudah tidak bisa lagi, maka akhirnya di putuskan Om Sapto akan ke Jember tidak bersamaan dengan rombongan, tetapi menyusul dengan berangkat tanggal 7 sore naik bis umum. Bulik Warih telah berada di Yogya tanggal 5 Juli sore, dari Bandung naik kereta Lodaya pagi. Sedangkan dik Adin sekeluarga dari Bandung tanggal 6 sore naik kereta, di harapkan tanggal 7 pagi sampai Yogya dan langsung bergabung dengan rombongan bus menuju Jember. Rombongan Om Wijay dari Tambun (6 orang) telah berangkat duluan tanggal 5 Juli 2012 sore dengan kereta langsung Surabaya bergabung dengan Om Yoga (Manung). Rencananya tanggal 7 Juli sore bertemu dengan rombongan bus di Gempol untuk selanjutnya menuju Jember. Sedangkan Om Fauzi, dik Ikhsan dan istri (Sari) serta keluarga Om Bambang berhalangan hadir, karena berbagai sebab.

Manusia merencanakan, namun Alloh jua yang menentukan. Pada tanggal 6 Juli 2012 jam 23.00 petugas perusahaan bus yang di sewa memberitahukan bahwa saat itu bus masih di Gilimanuk, Bali dan baru siap menyeberang ke Ketapang. Hal tersebut terjadi karena padatnya lalu lintas penyeberangan ke/dari Bali selama musim liburan. Diperkirakan keberangkatan ke Jember baru bisa jam 16.00 bukan jam 6 lagi. Astaghfirullohaladziem. Apa boleh buat, dari pada dicarikan bus pengganti yang tidak di jamin kenyamanannya, maka diputuskan perubahan jadwal, berangkat dari Yogya ke Jember jam 4 sore, hari Sabtu. Semua ada hikmahnya, karena dengan demikian pendaftaran ulang ke SMP Negeri IX Yogyakarta (dimana Fikri di terima) bisa dilakukan pada tanggal 7 Juli, sehingga Om Sapto bisa berangkat bersama rombongan. Demikian juga, dik Adin beserta istri dan anaknya (Ayu dan Balqis) yang baru datang dari Bandung pagi hari, bisa istirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Semboro, Jember. Sedangkan rombongan Surabaya, akhirnya berangkat duluan ke Jember tanggal 7 siang menggunakan mobil Om Yoga.

Tanggal 7 juli 2012 jam 16.00 rombongan KBH berangkat dari Gedongan menuju Semboro Jember, dengan penumpang 21 orang. Daftar penumpang terlampir. Berhubung sedang musim liburan, suasana lalu lintas sangat padat, perjalanan Yogya-Klaten yang biasanya di tempuh tidak sampai 1 jam, saat itu harus di tempuh selama 2 jam. Rencana makan malam di Rumah Makan Duta, daerah Ngawi Jawa Timur, di rubah menjadi istirahat solat Maghrib dan Isya di lanjutkan makan malam di RM Taman Sari Solo. Ketika melanjutkan pejalanan kembali, setelah melewati kota Sragen sebenarnya lalu lintas lancar, namun ternyata sopir bus mengemudikannya dengan santai, nampaknya beliau capai/kecapaian. Berkali-kali si salib oleh bus dan kendaraan lainnya. Ditambah lagi, ketika masuk SPBU di 2 tempat ternyata solar habis, sedangkan SPBU ketiga lampunya sudah mati alias tutup. Muncul kekhawatiran jika solar di bus habis, jangan-jangan bus nya mogok dan perjalanan ke Jember tambah terlambat lagi. Namun Alhamdulillah akhirnya bertemu SPBU yang masih ada stok solarnya. Lagi-lagi perjalanan terpaksa di tunda karena nampaknya sopir bus mengantuk sehingga perlu ngopi dulu. Perjalanan selanjutnya lancar walau bus jalannya tidak seperti yang di harapkan Mas Imad dan Om Hasto… pelan, disalib kendaraan lain terus. Sholat subuh dilaksanakan di SPBU daerah Bangil, dan selama menunggu penumpang menjalankan sholat subuh, sopir bus sempat istirahat sejenak.

Baru jalan kira-kira satu jam perjalanan setelah menunaikan sholat subuh, ganti penumpangnya merasa lapar. Padahal untuk mencapai Semboro masih jauh, kira-kira 3 jam lagi, sedangkan keluarga kak Basith sebenarnya sudah menyediakan sarapan dengan menu soto ayam, perkedel, tempe goreng dan kerupuk. Melalui telepon, penulis negosiasi dengan Siti, istri kak Basith yang akhirnya disepakati nasi soto yang sudah disiapkan di rumah kak Basith dirubah menjadi santapan makan siang. Rencana makan siang di pantai Papuma berubah menjadi makan sore. Dengan kesepakatan tersebut, rombongan berhenti di Pasuruhan, sarapan di RM Panorama dengan menu soto, ayam goreng, cap cay, fuyunghay serta krupuk dan minum teh panas plus buah semangka. Setelah kenyang sarapan, bus melenggang lagi (maksudnya jalan pelan) menuju Semboro. Namun beberapa saat sebelum sampai, ada penumpang yang mau pipis… Bus berhenti lagi di SBPU.

Alhamdulillah, pada kira-kira jam 9.30 akhirnya rombongan bus sampai di Semboro, setelah di jemput Om Yoga alias Manung di Tanggul, tepi jalan sebelum masuk Semboro. Di rumah “Loji Belanda” telah disediakan hamparan kasur banyak sekali, sehingga yang capai duduk di bus sepanjang malam bisa rebahan di kasur empuk sambil menunggu antrian ke kamar mandi. Di rumah kak Basith, ada 2 kamar mandi, satu di dalam rumah dan satunya lagi di samping belakang rumah. Bisa dibayangkan 2 kamar mandi diserbu penumpang bis yang jumlahnya 21 orang. Belum lagi di tambah keluarga tuan rumah 4 orang dan keluarga Tambun/Surabaya 7 orang yang sudah datang duluan. Jadi ada hikmahnya bus berhenti di SBPU tadi, karena sebagian penumpang sudah pipis di sana. Untungnya lagi sampai Semboro siang hari, jadi di kamar mandi belakang juga tidak masalah. Kalau malam hari? Hiiiii… Mengapa? Halaman belakang rumah kak Basith sangat luas, sinar lampu listrik yang di pasang tidak mungkin menerangi seluruh halaman. Bagi yang belum pernah ke kebun belakang rumah kak Basith dikala siang benderang, yang nampak adalah remang-remang dengan gemerisik daun yang di tiup angin.

Suasana rumah kak Basith yang teduh, dengan semilir angin sepoi-sepoi, di musim kemarau yang dingin, dan capai karena semalaman di jalan, menyebabkan pada tidur bergelimpangan di kasur. Akan tetapi anak-anak tidak mengenal capai, mereka bermain riang gembira bertemu dengan suadara-saudaranya. Di pekarangan pabrik yang luas dikelilingi pepohonan yang rindang, tersedia pula perangkat permainan anak seperti ayunan, jungkat-jungkit, komedi putar, di tambah sepeda kecil milik Nashwa anaknya kak Basith, menambah riang gembira anak-anak bermain. Sekembalinya dari menemani cucu bermain, ternyata yang pada tiduran sudah pada bangun, makan soto yang sangat lezat sambil berbincang-bincang. Ada juga yang bergaya bak fotografer, memotret sana sini, rumah kak Basith jadi sasaran kamera mulai dari halaman depan dari berbagai sisi, juga halaman belakang. Tak luput, jendela dan pintu ikut dipotret juga. Akhirnya kita potret bersama walau tidak bisa selalu lengkap. Yang satu datang, lainnya pergi dengan berbagai keperluan.

Ketika sudah jam 14.00, Om Yoga terpaksa ke Surabaya duluan karena besok pagi Rizal, putranya, harus masuk sekolah, hari pertama di SMP Muhammadiyah Surabaya. Setelah melepas keberangkatan Om Yoga, KBH naik bus menuju pantai Papuma (Pasir Putih Mutiara). Perjalanan dari Semboro ke pantai Papuma kurang lebih 1 jam 30 menit, melewati jalan raya, jalan pinggir hutan jati, ada yang subur ke hijauan namun ada juga yang meranggas tinggal batang, dahan dan ranting. Ternyata perjalanan selanjutnya naik gunung dengan pemandangan hutan, sehingga ada yang komentar : “Ini mau ke pantai atau ke gunung sih?” Tak kalah serunya, tanjakan sangat terjal dan jalanan sempit… aduuuh, tahan napas deh, karena ngeri. Alhamdulillah bus diizinkan sampai dekat pantai, sehingga untuk mencapai tepi pantai tidak perlu jalan kaki jauh. Wussss, angin kencang dan udara dingin sekali menyambut kehadiran KBH di pantai Papuma. Angin dingin tersebut menurut keterangan karena pengaruh musim dingin di rumah Kang Adam (Australia). Akan tetapi dengan pemandangan yang sangat indah, nampak beberapa batu karang menjulang tinggi di pantai, kapal nelayan berjajar warna-warni, dan pasirnya yang lembut putih, menjadikan Papuma menarik untuk di dekati. Untung anak-anak bawa jaket, topi, dan selendangpun bisa di manfaatkan sebagai selimut. Kembali fotografer beraksi mengambil gambar pemandangan pantai yang sangat menawan. Eyang Uti asyik menikmati pemandangan pantai sambil di terpa angin dingin, tak sedikitpun nampak Eyang kedinginan. Anak cucu mengerumuninya dan tak lama kemudian muncul hidangan kelapa muda utuh yang sangat menyegarkan, daging kelapanya sangat lezat. Belum juga minuman habis, muncul ikan bakar yang menggiurkan di tambah sambal dan lalapannya. Muncul lagi cumi-cumi di masak saus tiram…. Nyam…nyam…nyam. Semua asyik makan. Ketika perut sudah kenyang dan senja mulai turun, rombongan KBH bergegas menuju bus untuk kembali ke Semboro. Bus berjalan perlahan, walau bunyi mesin bus tambah kencang karena di tambah suara dengkur penumpang yang kekenyangan dan ketiduran…

Sampai rumah sudah malam, acara selanjutnya antri mandi bagi yang merasa ingin mandi dan mencari tempat untuk tidur. Ada yang bisa langsung tidur, namun ada juga yang masih nonton tivi, atau ngobrol di teras, sambil mencari-cari tempat yang masih kosong untuk merebahkan diri. Gelaran tikar dari kayu yang semula untuk menyajikan minuman dan kue-kue, di sulap menjadi tempat tidur. Bahkan Faisal tidur beralaskan sajadah di kolong meja makan, sedang Opang tidur di depan tivi beralaskan busa yang bisa di sambung-sambung menjadi hamparan alas tidur. Ketika jam telah menunjukkan pukul 23.00, semua pada pules tidur, hanya Deroem yang masih mondar-mandir mengamati posisi tidur kita semua. Kira-kira jam 24.00 terdengar suara orang bebenah bawaan, ternyata Bulik Warih, dik Adin, dik Ayu dan Balqis sedang siap-siap karena harus berangkat ke stasiun, akan melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung dengan Kereta Mutiara Selatan dari Tanggul jam 01.30. Sebuah perjuangan luar biasa untuk bisa rekreasi bersama, rombongan Bandung berangkat dini hari, agar sampai Surabaya pagi hari, sambung kereta api menuju Bandung. Setelah melepas keberangkatan bulik Warih cs diantar kak Basith, penulis, Deroem dan dik Siti, masuk rumah melanjutkan tidur lagi. Wezzzzz pulas semua tidurnya, napas teratur menjadi irama merdu di rumah kak Basith malam itu. Hanya kadang terdengar suara rintihan anak-anak yang terusik tidurnya karena bersenggolan satu sama lain.

Pagi hari tanggal 9 Juli 2012 di Semboro, suasana masih dingin, namun satu persatu sudah mulai pada bangun, antri kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudlu untuk sholat subuh. Semula direncanakan sholat subuh di Mushola pabrik, kemudian bincang-bincang dan jalan-jalan di seputar pabrik. Namun karena masih pada ngantuk plus capai, akhirnya hanya ngobrol sambil bebenah bawaan, siap-siap pulang kembali ke rumah-masing-masing. Dik Siti menghidangkan teh dan kopi serta roti bakar hangat dan lezat, anak-anak dan orang tuanya juga, yang sudah bangun menyerbu hidangan dengan lahapnya. Ketika sudah selesai mandi dan berdandan, telah ditunggu oleh nasi rawon dan telor asin, sambel terasi dan lalap toge. Hemm sarapan yang lezat sekali. Udara masih dingin, namun suasana hati KBH menghangatkan, sehingga sebenarnya masih ingin berada di Semboro untuk beberapa lama lagi. Namun, mengingat masih akan menempuh perjalanan jauh, Yogya, Tambun, maka dengan berat hati dan rasa enggan, rombongan KBH berpamitan kepada Kak Basith, dik Siti, Naswha dan Farzan serta seorang Ibu (maaf lupa namanya) yang membantu dik Siti menyiapkan hidangan makan KBH. Rombongan berangkat dari “Loji Belanda” jam 7.55 untuk melanjutkan perjalanan kembali ke rumah masing-masing, dengan membawa sejuta kenangan manis nan indah.

Saat adzan Dhuhur, bus sampai di Japanan (bukan Jepang tetapi daerah setelah Gempol), berhenti di rumah makan Lumintu, untuk istirahat sholat dan makan siang. Aneka hidangan tersedia tinggal memilih yang disukai, ada sop buntut, asem-asem ikan, kikil, aneka oseng, perkedel, ayam, ikan goreng dsb. Om Yoga alias Manung bergabung lagi di rumah makan tersebut. Selesai sholat dan makan, om Wijay cs memisahkan diri, bergabung dengan Om Yoga karena akan melanjutkan perjalanan ke tambun naik Kereta pada sore harinya. Sedangkan rombongan bus melanjutkan perjalanan ke Yogya dengan penumpang yang menjadi sedikit, banyak tempat duduk kosong. Satu orang bisa menempati dua kursi untuk tidur. Sampai di RM Duta, Ngawi pada jam 18.30, rombongan istirahat dan makan malam serta ada yang sholat. Nampaknya sudah pada capai, sehingga makan malam pada kurang semangat walau habis sepiring juga. Perjalanan lanjut lagi dengan hening diiringi suara dengkur teratur. Sampai Gedongan jam 23.00. Alhamdulillah, sampai dengan selamat.

Beberapa kenangan yang sempat penulis catat, ketika anak-anaknya Om Sapto di tanya, seneng apa tidak bepergian seperti ini? Jawabnya senang karena ketemu saudara-saudaranya. Sepanjang perjalanan, ketika bus akan berangkat lagi setelah berhenti dari perjalanan, penulis minta masing-masing mengabsen anak cucunya supaya tidak ada yang ketinggalan. Eeeh, Eyang Uti terus berdiri mau mengabsen seluruh penumpang…. Hehehe, ya iyalah, kan seluruh penumpang anak cucu buyut Yang Uti.. Meskipun acara yang telah di susun, khususnya untuk beramah tamah mendengarkan wejangan pinisepuh, tidak bisa di laksanakan, mudah-mudahan tetap menyenangkan bagi KBH semuanya. Terima kasih kepada Kak Basith yang sudah bersedia ketempatan pertemuan KBH dengan sambutan dan hidangan yang disajikan. Tentu banyak pengorbanan, termasuk harus meminjam kasur, membersihkan dan mengatur tempat sebelum dan sesudah kedatangan KBH. Kita harus selalu bersyukur kepada Alloh atas nikmat dan karunia Nya, dengan bersyukur, Alloh akan menambah nikmatnya kepada kita semua. Alhamdulillah… Gedongan, 21 Juli 2012. BdN.